FGD Randuagung Dorong Kolaborasi Petani dan Akademisi, Bahas Potensi hingga Solusi Pertanian Desa
Lenbari.com Malang || Upaya memperkuat sinergi antara petani, pemerintah desa, dan kalangan akademisi kembali dilakukan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Balai Desa Randuagung, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Sabtu (9/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi itu diikuti oleh mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang, dosen, penyuluh pertanian, serta perwakilan kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan).
BACA JUGA :
45 Tahun Mengabdi, Perumda Tirta Kanjuruhan Perkuat Inovasi Layanan Publik
Penyuluh Pertanian wilayah Kecamatan Singosari, Aris Cahyono, menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting untuk menggali potensi pertanian desa yang dinilai cukup besar.
“Melalui FGD ini, kita menggali potensi pertanian yang sangat luar biasa, baik dari kelembagaan desa maupun kelembagaan petani seperti kelompok tani dan Gapoktan di Randuagung,” ujarnya.
Ia menambahkan, diskusi yang berlangsung tidak hanya menjadi ruang tukar gagasan, tetapi juga wadah kolaborasi antar pihak. “Tadi kita berdiskusi dan berkolaborasi. Harapan kami, program-program ini tidak berhenti di sini, tetapi ada tindak lanjut yang nyata,” kata Aris.
Rangkaian kegiatan diawali dengan persiapan teknis dan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan yang diisi sambutan dari Kepala Jurusan, Kepala Desa, Ketua Gapoktan, serta penyuluh pertanian. Keterlibatan lintas unsur ini menunjukkan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pembangunan sektor pertanian di tingkat desa.
Pada sesi inti, pemateri menyampaikan paparan terkait isu-isu pertanian yang dihadapi di lapangan. Diskusi terbuka yang menyusul menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan pengalaman, kendala, hingga usulan solusi secara langsung. Interaksi antara mahasiswa, petani, dan pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam merumuskan pendekatan yang lebih aplikatif.
Desa Randuagung sendiri memiliki potensi lahan pertanian yang cukup besar. Karena itu, forum seperti FGD dinilai strategis dalam mendorong peningkatan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani melalui pendekatan partisipatif.
Kegiatan ditutup dengan evaluasi bersama seluruh peserta. Dalam sesi ini, panitia dan peserta menilai jalannya diskusi serta merumuskan langkah tindak lanjut yang dapat diimplementasikan pasca kegiatan.
BACA JUGA :
Yonkes 2 Kostrad Harus Jadi Garda Terdepan Pelayanan Kesehatan dan Misi Kemanusiaan
FGD ini tidak hanya menjadi agenda akademik semata, tetapi juga mencerminkan kebutuhan mendesak akan sinergi antara ilmu pengetahuan dan praktik pertanian di lapangan—sebuah langkah konkret untuk memperkuat fondasi pembangunan pertanian desa.
Editor : David






