DPRD Jatim Dorong Pemanfaatan AI untuk Lestarikan Budaya, Soroti Minimnya Dukungan Pemerintah
DPRD
MALANG LENBARI.COM |Hj. Hikmah Bafaqih menegaskan pentingnya pemanfaatan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sebagai jembatan strategis dalam memperkenalkan seni dan budaya kepada generasi muda.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) periode 2024–2029 itu menyampaikan hal tersebut saat menghadiri kegiatan pelatihan berbasis program AI Ready ASEAN di Singosari, Kabupaten Malang.
Menurutnya, saat ini masih terjadi kesenjangan dalam proses transfer pengetahuan, nilai, dan keterampilan budaya kepada generasi muda acara ini dilaksanakan di Kebun OPA/WINNIH Randu Agung Singosari Kabupaten Malang Minggu (30/8/2026)
BACA JUGA:
Hadiri Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo Tegaskan Indonesia Siap Bangkit Lebih Mandiri
“Selama ini seni tradisi dan aktivitas para budayawan belum sepenuhnya dipahami publik, terutama anak muda. Transfer pengetahuan, nilai, dan keterampilan berjalan lambat karena belum menggunakan medium yang dekat dengan mereka, seperti media sosial dan AI,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelatihan tingkat dasar ini menjadi langkah awal untuk mendorong para pelaku seni dan budaya agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dengan memanfaatkan perangkat sederhana seperti gadget, para peserta diharapkan dapat mempromosikan, mengedukasi, serta mengemas ulang konten budaya agar lebih menarik dan mudah diakses generasi muda.
“Kalau tidak menggunakan media yang akrab dengan anak muda, mereka tidak akan mengetahui aktivitas budaya yang ada. Kita harus masuk ke ruang mereka,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut program ini merupakan bagian dari inisiatif berskala ASEAN yang membuka peluang pembelajaran lanjutan melalui modul daring dan pendampingan. Peserta bahkan dapat mengakses materi secara gratis serta berkonsultasi dengan lembaga mitra penyelenggara untuk meningkatkan kapasitas secara berkelanjutan.
Namun demikian, ia juga menyoroti masih minimnya perhatian pemerintah terhadap sektor budaya, baik dari sisi kebijakan maupun penganggaran.
“Harus diakui, negara masih kurang hadir dalam penguatan budaya. Banyak pegiat seni dan komunitas budaya yang bergerak secara mandiri dengan biaya sendiri. Ini menjadi keprihatinan kita bersama,” ungkapnya.
Ia mencontohkan sejumlah komunitas budaya di Singosari yang tetap aktif melestarikan tradisi, meski dengan dukungan terbatas dan hanya sesekali mendapatkan stimulus dari pemerintah.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena sektor budaya belum sepenuhnya diposisikan sebagai instrumen strategis dalam pembangunan nasional. Fokus pemerintah dinilai masih lebih banyak pada sektor ekonomi dan ketahanan pangan.
“Padahal, budaya memiliki potensi besar, tidak hanya sebagai identitas bangsa, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi kreatif jika dikelola secara optimal,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, ia berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi momentum untuk memperluas jangkauan informasi budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda, sekaligus mendorong lahirnya inovasi berbasis teknologi.
BACA JUGA:
“Harapannya, seluruh aktivitas seni dan budaya bisa terinformasi dan terdistribusi secara luas, sehingga semakin banyak generasi muda yang tertarik dan terlibat,” pungkasnya.
Editor David






