Haji Siswanto Ungkap Kisah Cinta dan Kedermawanan Hj. Budi Irianti: Sedekah Tanpa Pamrih

0

 

MALANG, LENBARI.COM | Kisah cinta Haji Siswanto dan almarhumah Hj. Budi Irianti menjadi potret ketulusan, kesetiaan, dan perjuangan yang sarat makna. Di balik perjalanan hidupnya hingga menjadi pengusaha, Haji Siswanto mengungkapkan bahwa doa dan dukungan sang istri memiliki peran besar dalam kehidupannya.

Kisah tersebut disampaikan Haji Siswanto saat mengenang almarhumah Hj. Budi Irianti dalam kegiatan doa bersama pada Senin malam, 12 Oktober 2026, di wilayah kantor Polsek Lawang, Kabupaten Malang.

BACA JUGA:

Kenang Hari Kelahiran Hj. Budi Irianti, H. Siswanto Gelar Doa Bersama dan Berbagi dengan Anak Yatim di Lawang

 

Dengan penuh haru, Haji Siswanto menceritakan masa mudanya ketika dirinya dianggap tidak memiliki masa depan yang cerah. Bahkan, saat masih duduk di bangku SMA di Lawang, ia merasa dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitarnya.

Di tengah keterbatasan dan pandangan negatif tersebut, Hj. Budi Irianti hadir sebagai perempuan yang menerima dirinya apa adanya.

“Satu-satunya perempuan yang mau sama saya waktu itu adalah Bu Budi Irianti,” kenangnya.

Pengalaman itu menjadi titik balik dalam hidup Haji Siswanto. Ia bertekad bekerja keras agar mampu membahagiakan istrinya. Seiring waktu, dengan kerja keras dan keyakinan kepada Allah SWT, ia akhirnya membangun usaha dan memperoleh rezeki yang lebih baik.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari doa sang ibu dan doa istrinya yang terus mengiringi perjalanan hidupnya.

Berbagi tanpa ingin diketahui

Salah satu hal yang paling membekas bagi Haji Siswanto adalah kepedulian almarhumah terhadap masyarakat yang kurang mampu.

Ia mengisahkan, ketika kondisi ekonominya mulai membaik, sang istri meminta izin agar sebagian rezeki keluarga dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Permintaan itu tidak hanya dilakukan sekali, tetapi menjadi komitmen untuk berbagi secara berkelanjutan. Bantuan disalurkan kepada masyarakat hingga ke berbagai pelosok, dengan mengedepankan keikhlasan dan kepedulian.

Bagi Hj. Budi Irianti, sedekah bukan sekadar memberikan bantuan materi, melainkan wujud rasa syukur atas rezeki yang dititipkan Allah SWT.

Haji Siswanto juga mengenang pesan sang istri agar setiap kebaikan dilakukan dengan tulus, tanpa mengharapkan pengakuan dari orang lain.

Prinsip tersebut sejalan dengan nilai sedekah yang mengajarkan bahwa tangan kanan memberi, sementara tangan kiri tidak perlu mengetahui.

Pesan terakhir sang istri

Menjelang wafatnya, Hj. Budi Irianti disebut pernah menyampaikan pesan khusus kepada suaminya. Ia berharap agar sang suami dapat membangun lebih banyak tempat ibadah, termasuk masjid, serta mengelola harta dan aset keluarga dengan penuh tanggung jawab.

Pesan itu terus membekas dalam ingatan Haji Siswanto. Namun, ia mengakui bahwa menjalankan seluruh amanah tersebut bukan perkara mudah.

Setelah sang istri meninggal dunia, ia sempat mengalami masa sulit secara emosional hingga terpikir untuk menghentikan usaha yang dijalankannya.

Namun, ia kembali mempertimbangkan nasib para karyawan dan keluarga mereka. Dengan tanggung jawab yang besar, ia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan usaha agar tetap dapat memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan.

Keputusan tersebut menjadi bagian dari upayanya meneruskan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan sang istri.

Cincin pernikahan yang tetap dikenakan

Kesetiaan Haji Siswanto kepada almarhumah juga tergambar dari cincin pernikahan yang hingga kini tetap dikenakannya.

Ia mengaku masih menyimpan rasa hormat dan cinta yang mendalam kepada sang istri. Baginya, Hj. Budi Irianti bukan sekadar pasangan hidup, melainkan sosok yang menerima dirinya ketika berada dalam keterbatasan dan terus mendukungnya hingga berhasil membangun kehidupan yang lebih baik.

Kisah yang disampaikan Haji Siswanto menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kemampuan seseorang semata, tetapi juga dapat tumbuh dari doa, kesetiaan, dukungan, dan ketulusan orang-orang terdekat.

Melalui peringatan tersebut, keluarga dan masyarakat diajak untuk tidak hanya mengenang almarhumah, tetapi juga meneruskan semangat berbagi yang telah dicontohkannya.

Sebab, harta dapat menjadi sarana untuk membantu sesama, sementara ketulusan dan kebaikan akan terus hidup dalam ingatan serta manfaat yang dirasakan orang lain.

Hj. Budi Irianti telah berpulang, tetapi nilai-nilai kebaikan yang ditinggalkannya menjadi warisan berharga bagi keluarga dan masyarakat.

BACA JUGA:

Presiden Prabowo Tegas! Praktik yang Rugikan Kekayaan Negara Harus Dilawan

Editor : David

Tinggalkan Balasan